Postingan

Menampilkan postingan dengan label Politik

PILKADA SERENTAK 2020 DAN ASA KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF 

Gambar
BENCANA Non Alam: Covid-19 telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita, tak terkecuali dalam aspek politik. Pilkada Serentak 2020, misalnya, yang semula mesti diselenggarakan pada 23 September 2020, akhirnya diundur pada 9 Desember 2020 nanti. Ada 270 daerah (propinsi, kota dan kabupaten) di seluruh Indonesia yang turut melaksanakan Pilkada Serentak tahun ini.  Secara umum, pemilihan umum adalah momentum bagi para pemilih untuk memilih atau menentukan siapa yang akan memimpinnya kelak. Dalam konteks Pilkada Serentak, secara khusus akan dijadikan oleh para pemilih untuk memilih atau menentukan siapa yang akan memimpin daerahnya kelak. Dipahami bahwa leader is a dealer in hope. Seorang pemimpin adalah penjual sekaligus pembeli harapan, demikian petuah Napoleon Bonaparte.  Pemimpin ideal pastilah seseorang yang memiliki karakter yang kuat, punya visi yang mengakar pada kehendak publik, menjadi inspirator dalam setiap situasi, dan mesti mampu memberi harapan meya...

DEMOKRASI TAHI AYAM! 

Gambar
DALAM berbagai literatur kita bisa memahami bahwa demokrasi adalah medan terbuka bagi setiap elemen untuk menentukan kepemimpinan dan tujuan bersama. Oleh, dari dan untuk rakyat kerap menjadi ungkapan yang mewakili penyederhanaan atas makna dan substansi demokrasi.  Dalam skala praktis, demokrasi mewujud dalam bentuk partai politik, proses kandidasi, pesta politik, dan merawat sekaligus memenuhi janji-janji politik dalam bentuk kebijakan atau program kerja yang sesuai dengan kebutuhan publik. Tersedia ruang kritik dari elemen publik pun merupakan bagian dari praktik demokrasi itu sendiri.  Bila praktiknya menepikan hal semacam itu terutama mengingkari janji-janji politik, maka kredo demokrasi oleh, dari dan untuk rakyat justru tidak menemukan konteksnya. Apalah lagi bila dampak kepemimpinan menyebabkan kegaduhan yang tak produktif dan menghadirkan instabilitas, di sini demokrasi menjadi ilutif.  Pertanyaan mendasarnya adalah, demokrasi apa yang Anda bela da...

JEBAKAN PENDUKUNG DAN KENAIFAN BAKAL CALON PILKADA SERENTAK 

Gambar
SEPERTI biasa, saya tak hadir dengan setumpuk teori. Bukan karena malas menghadirkan teori, tapi kadang berteori panjang membuat pembaca jadi malas baca. Makanya saya langsung to the point saja. Itu lebih mantap dan menarik bagi pembaca.  Semua paham dan maklum bahwa karena dampak bencana non alam: Covid 19, Pilkada Serentak yang rencananya diselenggarakan pada 9 September 2020 diundur menjadi 9 Desember 2020. Pemerintah dan penyelenggara Pemilu sudah menetapkan demikian.   Seingat saya, yang mengikuti Pilkada Serentak pada 9 Desember 2020 nanti ada 270 daereh yang terdiri dari propinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia yang memang mengikuti Pilkada Serentak tahun ini.  Sebagai sebuah pesta, Pilkada Serentak pun meniscayakan begitu banyak kalangan mau terlibat bahkan ikut maju. Berbagai cara dan langkah pun sudah mulai diaksikan selama hampir setahun terakhir.  Termasuk melakukan komunikasi politik lintas jejaring, demi terkabulkannya hasrat...

BANG ABDUL GANIR DAN MOMENTUM POLITIK KITA DI MANGGARAI BARAT 

Gambar
Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un. Manggarai Barat atau Mabar kembali berduka. Kini Mabar kehilangan tokoh yang sangat layak dilanjutkan lakonnya dalam ranah politik. Ya kita semua turut berduka atas meninggalnya tokoh muslim sekaligus politisi kebanggaan Manggarai Barat Bapak Abdul Ganir, SH, hari ini Kamis 25 Juni 2020.   Politisi yang saya sapa Bang Abdul Ganir ini adalah sosok yang berpengalaman dan telah malang melintang dalam berorganisasi. Dunia aktivisme adalah dunia yang tak asing baginya. Itulah kelak yang membawanya ke panggung legislatif atau DPRD Mabar dengan posisi yang membanggakan dan tak mudah diraih oleh politisi yang biasa-biasa. Selain pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Satria Makasar, beliau juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makasar. Selain itu, pernah juga menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Manggarai Makasar, Wakil Ketua DPD PAN Mabar dan yang terakhir adalah menjadi anggota DPRD Mabar Periode 2014-2019 Fraksi PAN. Bahk...

ELITE MENIPU, RAKYAT TERTIPU! 

Gambar
SAYA tak mau berteori panjang-lebar. Karena saya bukan persegi panjang. Saya juga tidak mau terjebak dalam lingkaran kepura-puraan yang di sebagian orang kerap dipelihara. Saya hanya ingin bicara sebagai upaya menyadarkan siapapun yang selama ini masih saja takluk kepada selera dan syahwat para elite.   Para elite itu hanya mementingkan perut dan syahwat kelompoknya. Rakyat hanya tameng sekaligus stempel. Itu pun sekadar pakai nama rakyat. Bukan benar-benar untuk rakyat. Bila pun ada yang membela mereka hingga mati-matian, itu pasti penjilat dan bazer yang sengaja dibayar dari anggaran lintas sektor.  Para penjilat dan bazer itu pasti tak suka dengan tulisan semacam ini. Mereka benar-benar panas hati dan telinga. Karena bagi mereka, elite itu adalah sumber pengebul perut dan bahkan dijadikan tuhan baru. Tak menyebut memang, tapi sikap dan tingkah mereka begitu nyata dan jelas. Tak punya rasa malu. Walaupun ujungnya tetap saja tertipu.  Maka jangan pernah ma...

ANTI PKI MESTI PAKAI OTAK? 

Gambar
KALI ini saya mendapat foto baju kaos bertuliskan "Saya bangga jadi musuh PKI" pada sebuah akun facebook. Melihat dan membacanya seru juga. Jadi tambah penasaran sama PKI dan isme daganganya. Termasuk penasaran dengan para pengasongnya. Bukan saja dengan cara membaca buku dan berbagai bacaan lainnya lagi, tapi juga menelisik strategi dan pola kerja para pengasongnya.  Saya memilih demikian, biar saya tidak reaktif kepada isu PKI dan komunisme dengan cara atau tingkah yang melampaui batas. Karena di sebagian kalangan sering kali sikap antipati dilakukan secara membabi buta. Panas-panas tahi ayam. Lebih parah lagi, konon menjual isu "tidak suka PKI" kalau tak dapat kue. Kalau dapat kue sih langsung diam saja. Sekadar isu musiman. Mirip pola PKI zaman dulu. Lalu, kalau begitu apa bedanya PKI dengan yang antipati dengan PKI?    Sekadar mengingatkan kembali, dulu Aidit juga dukung Pancasila. Akrab dengan banyak tokoh yang berseberangan dengan PKI. Bahkan dia a...

JANGAN PERCAYA PARA POLITISI PENIPU! 

Gambar
PESTA demokrasi yang akrab dinamai Pilkada Serentak di Manggarai Barat atau Mabar 2020 menjelang tak lama lagi. Hiruk pikuk dan berbagai atraksi politik pun bisa ditonton berkali-kali di momentum menjelang pesta politik yang semakin hangat ini. Bukan saja politisi yang ramai, mereka yang sekadar ikut-ikutan pun terlihat begitu geliat menebar berbagai ragam alat bantu atau media untuk mengenalkan tokoh idola atau dukungannya dalam berbagai momentum.  Sebagai sebuah dampak dan aksi praksis politik, fenomena semacam itu semakin menambah gairah kita untuk mengatakan bahwa politik di Mabar semakin mendapatkan ruangnya. Politik pun bukan saja milik para politisi tapi juga warga biasa yang memiliki hak dan kewajiban politis dalam menentukan siapa pemimpin yang akan memimpin daerahnya.  Di tengah menyaksikan fenomena gegap gempita politik semacam itu, berbagai macam pertanyaan pun seketika muncul di benak sebagian warga. Misalnya, apakah para sosok yang hendak maju itu suda...

BACOT TAK BOLEH MINGKEM! 

Gambar
BACOT itu kata atau bahasa halus. Begitu menurut seorang teman. Baginya, itu diksi yang tepat. Asal konteksnya disesuaikan. Bagi yang tak biasa, mungkin terdengar seram sekaligus terkesan kasar. Ya itu sesuai selera masing-masing saja. Terserahlah!   Bacot adalah diksi untuk membangkitkan semangat agar tak mati kutu di tengah hiruk pikuk tingkah korup dan jahat para penjahat dan pendukung mereka. Sebab bila mati kutu, maka mereka bakal mendominasi dan terus merongrong di berbagai lini republik.   Bila membacot dituduh sebagai pola kuno dan kampungan, maka biarkanlah. Ya teruslah membacot. Sebab ini memang kuno dan kampungan. Bila pola kota dan sok modern itu sudah tak mempan atau malah menambah kekacauan, maka pola kuno dan kampungan layak dipilih jadi jalan. Maka membacot pun punya asas dan basis legalitasnya secara moral dan kultural.  Bacot adalah media sekaligus alat untuk menyuarakan keresahan yang disebabkan oleh realitas yang sudah teracuni virus jah...

KUASA SK PARPOL DAN ASA POLITIK KITA

Gambar
PILKADA Serentak tahun 2020 ini akan dilaksanakan di 270 daerah di seluruh Indonesia. Dari daerah propinsi hingga daerah kabupaten dan kota. Di propinsi NTT, Manggarai Barat atau Mabar merupakan satu diantara sembilan daerah yang akan melaksanakan Pilkada. Hal itu, kalau tak aral melintang, sudah final, seperti yang sudah ditentukan oleh KPU beberapa waktu lalu.  Pilkada sendiri adalah momentum bagi pemilih untuk menentukan siapa yang layak mereka pilih untuk menjadi pemimpin daerah di mana mereka berada. Mereka yang terpilih bakal dilantik dan tentu menjadi pemimpin untuk periode kepemimpinan berikutnya.  Dalam perspektif akademik dan moral, menjadi pejabat publik adalah amanah yang pertanggungawabannya sangat berat. Karena berat, hanya mereka yang siap bertanggungjawab saja yang mestinya layak dipilih dan mendapatkan mandat sebagai pemimpin. Atau dalam konteks Pilkada adalah kepala daerah.   Tapi di sini ada yang unik dan seru. Politik, lebih khususn...

PENAGIH JANJI POLITIK BERAKAL DANGKAL

Gambar
KALAU kita telah memilih pemimpin, baik di eksekutif (Bupati/Wakil Bupati) maupun di legislatif (DPRD) lalu mereka dilantik atau sekarang sedang menjabat, maka kerja kita yang memilih adalah menagih janji politik mereka. Tagih sepuas-puasnya. Kita marah juga boleh. Itu hak kita.  Kepada mereka yang tidak pernah kita pilih dan tidak pernah dilantik sebagai pemimpin kita, kita tidak punya hak menagih. Sebab mereka sama dengan kita. Posisi mereka saat ini sama dengan posisi kita. Mereka pemilih, bukan terpilih. Atau minimal mereka bakal calon pemilih, bukan calon terpilih. Sebagaimana juga kita. Kalau kita menagih janji kepada mereka, sama saja dengan mereka manakala menagih janji kepada kita. Memangnya kita pernah berjanji, dipilih dan dilantik jadi pemimpin? Kalau kita tidak dipilih atau tidak menjabat, kit tentu tidak mau ditagih, bukan? Mereka juga begitu. Mereka baru bakal calon. Calon aja belum, apalagi dilantik. Sama sekali belum.   Suatu kedangkalan ak...