Anak adalah anugerah terbaik dari Allah untuk kita. Ia semakin spesial karena pada faktanya tak sedikit pasangan suami-istri yang belum atau tidak mendapatkan keturunan. Nikah lama atau cepat ternyata tak serta merta mendapatkan anugerah ini. Coba bayangkan saja, tak sedikit orang yang berlimpah harta, menjadi pejabat di instansi, manajer pada perusahaan tertentu dan pokoknya orang penting di banyak lembaga. Harta tentu saja banyak. Mobil dan motor parkir di halaman khusus. Saldo rekening pun ada di banyak bank. Mungkin juga punya kontrakan rumah, mobil sewa, dan masih banyak lagi. Itu semua tentu bakal membuat bahagia. Semua kebutuhan hidup terpenuhi bahkan melimpah. Suami ingin apa saja pasti istrinya penuhi. Begitu juga sebaliknya, istri mau apa saja pasti suaminya bakal penuhi. Serasa sempurna hidupnya. Mereka jalan-jalan ke luar kota pun itu urusan gampang. Bahkan urusan keluar negeri bukan soal. Itu sangat mudah dan mau kapan saja bisa. Tinggal pencet tombol, uang langsun...
Alhamdulillah dan barakallah saya sampaikan untuk saudara sekaligus sahabat saya Dr. Mu'tashim El-Mandiri (Ustadz Dr. Mu'tashim) yang sukses mengikuti sidang sebagai syarat meraih gelar Doktor di Ruang Sidang Universitas Islam Oumdurman, tepatnya di gedung Lembaga Penelitian dan Studi Dunia Islam Kota Khourtum-Sudan, Selasa 3 Agustus 2021. Saya sampaikan ini sebagai wujud syukur kepada Allah dan rasa bangga sesama generasi muda NTT yang tergolong lama di tanah rantau khususnya di Jawa dan luar negeri. Pada kesempatan ini Ustadz Dr. Mu'tashim menyampaikan risalah menarik yang berjudul "Peran Ulama Hadits Nusantara Abad 20-21 dalam menyebarkan Sunnah; Kajian atas kitab-kitab Hadits". Tema ini sangat penting untuk ditelaah dan menjadi bacaan menarik bagi umat Islam di Indonesia juga luar negeri. Selain tema hadits yang tergolong sulit, mengaitkannya dengan keulamaan nusantara pun tentu semakin sulit. Untuk itu, menekuni bidang ini lalu diformulasi dalam bentuk kary...
MENULIS adalah tugas sejarah. Begitu ungkap sebagian para bijak. Ia berpijak pada nilai dan prinsip keluhuran. Bahwa idealisme tak boleh terhempas karena realitas yang kadang absurd. Sebab tak sedikit yang terjebak pada hal semacam itu. Sesuatu yang penuh dengan kepentingan dan selera sesaat. Walau secara teknis konten tetap memadukan antar idealitas dan realitas, namun itu tak berarti meleburkan kejelasan tujuan pada syahwat pragmatisme. Dalam konteks itulah dibutuhkan apa yang disebut dengan adaptasi atau kontekstualisasi. Konsistensi dan kesetiaan pada perspektif semacam itu bukan saja berat tapi juga penuh godaan. Sebab di sini bukan lagi soal melahirkan kata-kata atau tradisi menulis yang bisa jadi bisa dilakukan oleh siapa saja, tapi juga substansi ide dan narasinya. Sejarah adalah pergulatan ide dan ide, narasi dan narasi, serta teks dan teks juga latar belakang dan konteksnya. Maka literasi tak melulu soal jumlah kata dan akumulasi produksi dokumen dalam bentuk buku ...
Komentar
Posting Komentar